Alkisah seorang Umar bin Khattab adalah pemimpin kaum muslim kala itu. Tak tanggung-tanggung seorang Umar sering terjun langsung ke permukiman warga kota. Blusukan mungkin namanya sekarang.
Suatu malam Umar menyamar menjadi warga biasa. Berbalut jubah hitam yang menutupi hampir seluruh badan dan wajahnya, ia berkeliling sendiri ke setiap pelosok negeri yang sedang ia pimpin. Tibalah di sebuah pondok kecil dan kumuh, Umar mengintip dan menguping lewat jendela. Alangkah terkejut dirinya mendapati seorang ibu yang sedang memasak batu. Anak-anaknya merengek kelaparan minta diberi makan. Tak ada bahan makanan, sang ibu berpura-pura memasak sambil menenangkan anak-anaknya. Pada akhirnya mereka letih karena menangis lalu terlelap dengan sendirinya.
Tertegun Umar menyaksikan kondisi rakyatnya dengan mata kepalanya sendiri. Umar langsung berlari pulang ke istana selepas beresnya peristiwa yang memilukan hatinya. Dengan otot tangannya sendiri, dia memikul bahan makanan di atas pundaknya dan bersegera ke lokasi kembali. Sesampainya di sana, Umar memberikan sekarung bahan makanan kepada sang ibu dengan ikhlas.
*
Aku merindukan seorang pemimpin yang terjun langsung merasakan kondisi rakyatnya tanpa kawalan voorijder yang angkuh, sirene yang memekakkan telinga, bodyguard yang awas, atau kilatan lampu flash media yang memusingkan mata. Akankah ada? Aku sangat berharap akan ada suatu saat nanti.
Saat pengharapan itu terasa berada di titik nadir, ada baiknya aku, kamu, dan semua yang membaca tulisan ini memproyeksikan diri layaknya Umar ketika menjadi khalifah nanti.
Eirdnag Nahdamar
Nggak ada yang instan, semua butuh proses!
Rabu, Mei 01, 2013
Senin, April 15, 2013
Strawberry Swing
The sky could be blue
Could be gray
I don't mind
Without you I just slide away
Without you it's a waste of time
Selasa, April 09, 2013
Ardian Syaf
Ketik "Ardian Syaf" di pencarian gambar Om Google. Jarang muncul wajahnya, justru karyanya yang mendominasi.
Pasti hanya segelintir orang yang mengetahui siapa dia. Wong saya juga baru tahu setelah dia mejeng di kolom Sosok Kompas beberapa bulan yang lalu. Kisahnya menarik, seru untuk ditelisik, dan banyak pelajaran yang bisa dipetik.
Namanya Ardian Syaf, asli Indonesia, arek Tulungagung. Sebenarnya namanya sudah tidak asing lagi di dunia komik. Goresan penanya berhasil menarik perhatian penerbit komik Amerika Serikat sekaliber DC Comics. Tangannya mampu menghasilkan sosok superhero seperti Batman, Batgirl, dan Superman. Lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Malang ini mengaku bercita-cita menjadi komikus sejak masih kecil.
Pasang surut kehidupan sudah dia lalui. Bahkan ibunya sempat cemas dengan konsistensi Aan (panggilan Ardian Syaf) di dunia komik. "Aan dari menggambar bisa kerja apa ya?", celoteh ibunya dulu. Aan sempat bekerja lepas dengan bayaran sekitar 25 dollar AS per halaman untuk komik pendek delapan halaman. Di samping itu, pada saat yang sama Aan bekerja sebagai pengatur tata letak buku Lembar Kerja Siswa SMA dengan bayaran Rp 2.500 per halaman. Keadaan makin terpuruk ketika anaknya sakit dan membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit. Saat itu Aan ingin mengubur cita-citanya menjadi seorang komikus.
Saat itu pula tangan Tuhan bergerak.
Seorang penulis naskah asal Irlandia menghubungi Aan lewat surat elektronik untuk dibuatkan komik. Ini adalah titik balik kehidupan seorang Aan. Sejak saat itu karya Aan mulai dilirik oleh mata internasional. Setelah itu DC Comics secara eksklusif mengontrak Aan untuk menggarap komik superhero. Coretannya kini dihargai 300 dollar AS per lembar. Dan tentunya Aan sudah menggarap berbuku-buku komik.
Uniknya, Aan kerap kali menyisipkan unsur-unsur keindonesiaan dalam karyanya seperti baliho dengan gambar Jokowi-Ahok dan latar Jakarta. Aan tidak mau berhenti sampai di sini. Hingga sekarang dirinya ingin menghidupkan kembali eksistensi komik Indonesia.
*
Saya beberapa kali menemukan orang tua yang memaksakan kehendak kepada anaknya. Agaknya kebanyakan orang tua sudah dibutakan dengan jurusan tertentu; yang berefek pada lupa pada satu hal: kesenangan anak mengerjakan sesuatu. Padahal, ketika hal itu dirampas, jiwa anak akan berontak secara terlihat ataupun tidak terlihat. Beruntung Aan memiliki ibu yang sabar dan senantiasa mendukung.
Asal berlandaskan niat yang baik, mau menjadi apapun itu, tangan Tuhan pasti akan bergerak pada saat yang tepat, saat yang tidak diduga-duga.
Toothless
Rabu, Februari 06, 2013
Baju Pengantin
Baju pengantin telah
Kutanggalkan dini hari
Jenuh awan nan kelabu
Berakhir di ujung hujan
Dalam pelukan ku terjaga
Tersentuh benih harapan
Kembali bersinar
Cakrawala kehidupan ini
Desah angin pagi
Menambah hangatku berkawan alam
Kini telah kujumpa
Air sejuk pelepas haus dahaga
Jangan kau tinggalkan
Bila kekasih mengetuk pintu
Chrisye - Baju Pengantin
Karya Eros Djarot dan Jockie Soerjoprajogo
Album: Badai Pasti Berlalu (1977)
Kutanggalkan dini hari
Jenuh awan nan kelabu
Berakhir di ujung hujan
Dalam pelukan ku terjaga
Tersentuh benih harapan
Kembali bersinar
Cakrawala kehidupan ini
Desah angin pagi
Menambah hangatku berkawan alam
Kini telah kujumpa
Air sejuk pelepas haus dahaga
Jangan kau tinggalkan
Bila kekasih mengetuk pintu
Chrisye - Baju Pengantin
Karya Eros Djarot dan Jockie Soerjoprajogo
Album: Badai Pasti Berlalu (1977)
Selasa, Februari 05, 2013
Aktor dan Aktris
Sudah nonton Habibie & Ainun?
Semua pasti berdecak kagum melihat akting seorang Reza Rahadian. Caranya meniru Habibie nyaris sempurna. Gaya bicara, cara berjalan, mimik wajah, dan gestur saat memerankan Habibie patut diacungi jempol. Lawan mainnya adalah Bunga Citra Lestari yang memerankan Ainun. Menurut saya, Ainun tidak setenar Habibie di media sehingga saya tidak tahu persis gaya dan karakteristik beliau. Makanya saya tidak bisa menilai BCL dalam memerankan Ainun di film ini.
Bukan itu yang ingin saya soroti.
Banyak adegan mesra antara Reza Rahadian dengan BCL selama film ini diputar. Mereka berpegangan tangan, berdansa, berpelukan, hingga berciuman. Hal pertama yang pasti terlintas di kepala saya selama adegan romantis itu berlangsung adalah suami dari BCL. Meeen, apakah dia tidak naik pitam ketika istrinya dijamah oleh laki-laki lain? Baiklah, basis mereka adalah profesionalisme sebagai aktor dan aktris. Saya hargai dasar profesionalisme mereka, tetapi saya tidak sepaham dengan mereka.
Saya sih tidak mau istri saya nanti dipegang, dipeluk, dicium, atau dicumbu laki-laki lain dengan alasan apapun.
Kesimpulannya apa? Cari pasangan hidup jangan yang berprofesi sebagai aktris/aktor.
Ha-ha-ha.
Semua pasti berdecak kagum melihat akting seorang Reza Rahadian. Caranya meniru Habibie nyaris sempurna. Gaya bicara, cara berjalan, mimik wajah, dan gestur saat memerankan Habibie patut diacungi jempol. Lawan mainnya adalah Bunga Citra Lestari yang memerankan Ainun. Menurut saya, Ainun tidak setenar Habibie di media sehingga saya tidak tahu persis gaya dan karakteristik beliau. Makanya saya tidak bisa menilai BCL dalam memerankan Ainun di film ini.
Bukan itu yang ingin saya soroti.
Banyak adegan mesra antara Reza Rahadian dengan BCL selama film ini diputar. Mereka berpegangan tangan, berdansa, berpelukan, hingga berciuman. Hal pertama yang pasti terlintas di kepala saya selama adegan romantis itu berlangsung adalah suami dari BCL. Meeen, apakah dia tidak naik pitam ketika istrinya dijamah oleh laki-laki lain? Baiklah, basis mereka adalah profesionalisme sebagai aktor dan aktris. Saya hargai dasar profesionalisme mereka, tetapi saya tidak sepaham dengan mereka.
Saya sih tidak mau istri saya nanti dipegang, dipeluk, dicium, atau dicumbu laki-laki lain dengan alasan apapun.
Kesimpulannya apa? Cari pasangan hidup jangan yang berprofesi sebagai aktris/aktor.
Ha-ha-ha.
Sabtu, Februari 02, 2013
Mampang Prapatan 1-2
Jadi, ceritanya saya mendapat pelajaran dari seorang street designer. Tidak hanya baju, jalan juga harus didesain dengan bagus. Hehe.
Ada yang aneh dengan dengan pagar pembatas di median di sepanjang Jalan Mampang Prapatan Raya. Jika Anda jeli, Anda akan menemukan pagar yang hilang di beberapa titik. Hari Kamis (31 Januari 2013) di lokasi kejadian saya ditanya oleh seorang rekan mengapa pagar itu hilang. Saya diminta berdiri 10 menit untuk mengamati. Ternyata, lokasi itu menghubungkan Jalan Mampang Prapatan 1 dengan Jalan Mampang Prapatan 2 sehingga banyak yang menyeberang di sana.
Blusukan
Secara spontan kami menelusuri Mampang Prapatan 1 dengan berjalan kaki. Jalannya terlalu sempit untuk dilalui mobil. Sedikit masuk, ada sebuah masjid besar dan madrasah. Atas inisiatif rekan saya, kami langsung mencari kepala pengurus masjid. Blusukan hingga ke gang-gang untuk menemui rumah pengurus masjid.
Tak hanya itu, kebetulan ada Pak RT dan Pak Kepala Sekolah. Akhirnya kami mengobrol dalam satu meja. Usut punya usut, dalam setahun bisa terdapat tiga orang meninggal akibat tertabrak kendaraan. Akibat buruknya fasilitas penyeberangan sih lebih tepatnya. Tiga dalam satu tahun apakah termasuk sedikit? Kalaupun hanya terdapat satu, satu itu adalah nyawa. Ini bukan perihal banyak atau sedikit.
Lucunya, Pak RT mengemukakan bahwa terjadi kesulitan saat memindahkan jenazah dari masjid ke kuburan. Masjid berada di Mampang Prapatan 1, sedangkan kuburan terletak di Mampang Prapatan 2. Harus menyeberang. Butuh empat orang dan mereka harus mengangkang sembari menggotong peti jenazah melewati separator dan median. Keesokan harinya (Jumat), saya menunaikan ibadah Salat Jumat di masjid yang sama. Setelah beres saya langsung capcus untuk mendokumentasikan orang yang menyeberang. Tidak tanggung-tanggung, terdapat lebih dari 50 penduduk lokal yang menyeberang untuk kembali beraktivitas sehabis salat.
Cek juga video berikut. Hanya 24 detik kok.
Apakah terdapat jembatan penyeberangan di dekat sana? Jawabannya ada tapi letaknya cukup jauh. Lokasi inilah yang pas untuk menyeberang karena memang banyak demand. Pencopotan pagar di tengah itu bukanlah vandalisme yang dilakukan oleh warga setempat. Melihat masalah secara mikro maupun makro sangat menarik. Keduanya penting dilakukan karena memiliki perannya masing-masing.
Sebagai kesimpulan, tidak dibutuhkan ilmu transport tingkat dewa untuk mengetahui lokasi penyeberangan jalan. Yang perlu dilakukan adalah tambahan effort untuk berjalan kaki (bonus sinar matahari dan asap tentunya) dan terjun langsung ke masyarakat.
Ada yang aneh dengan dengan pagar pembatas di median di sepanjang Jalan Mampang Prapatan Raya. Jika Anda jeli, Anda akan menemukan pagar yang hilang di beberapa titik. Hari Kamis (31 Januari 2013) di lokasi kejadian saya ditanya oleh seorang rekan mengapa pagar itu hilang. Saya diminta berdiri 10 menit untuk mengamati. Ternyata, lokasi itu menghubungkan Jalan Mampang Prapatan 1 dengan Jalan Mampang Prapatan 2 sehingga banyak yang menyeberang di sana.
Blusukan
Secara spontan kami menelusuri Mampang Prapatan 1 dengan berjalan kaki. Jalannya terlalu sempit untuk dilalui mobil. Sedikit masuk, ada sebuah masjid besar dan madrasah. Atas inisiatif rekan saya, kami langsung mencari kepala pengurus masjid. Blusukan hingga ke gang-gang untuk menemui rumah pengurus masjid.
Tak hanya itu, kebetulan ada Pak RT dan Pak Kepala Sekolah. Akhirnya kami mengobrol dalam satu meja. Usut punya usut, dalam setahun bisa terdapat tiga orang meninggal akibat tertabrak kendaraan. Akibat buruknya fasilitas penyeberangan sih lebih tepatnya. Tiga dalam satu tahun apakah termasuk sedikit? Kalaupun hanya terdapat satu, satu itu adalah nyawa. Ini bukan perihal banyak atau sedikit.
Lucunya, Pak RT mengemukakan bahwa terjadi kesulitan saat memindahkan jenazah dari masjid ke kuburan. Masjid berada di Mampang Prapatan 1, sedangkan kuburan terletak di Mampang Prapatan 2. Harus menyeberang. Butuh empat orang dan mereka harus mengangkang sembari menggotong peti jenazah melewati separator dan median. Keesokan harinya (Jumat), saya menunaikan ibadah Salat Jumat di masjid yang sama. Setelah beres saya langsung capcus untuk mendokumentasikan orang yang menyeberang. Tidak tanggung-tanggung, terdapat lebih dari 50 penduduk lokal yang menyeberang untuk kembali beraktivitas sehabis salat.
![]() |
| Harus sambil "ngangkang" |
![]() |
| Bayangkan sambil menggotong peti jenazah |
Apakah terdapat jembatan penyeberangan di dekat sana? Jawabannya ada tapi letaknya cukup jauh. Lokasi inilah yang pas untuk menyeberang karena memang banyak demand. Pencopotan pagar di tengah itu bukanlah vandalisme yang dilakukan oleh warga setempat. Melihat masalah secara mikro maupun makro sangat menarik. Keduanya penting dilakukan karena memiliki perannya masing-masing.
Sebagai kesimpulan, tidak dibutuhkan ilmu transport tingkat dewa untuk mengetahui lokasi penyeberangan jalan. Yang perlu dilakukan adalah tambahan effort untuk berjalan kaki (bonus sinar matahari dan asap tentunya) dan terjun langsung ke masyarakat.
Langganan:
Entri (Atom)



